Rabu, 30 Desember 2015

Peta Konflik Suriah Terhadap Regionalisme di Timur Tengah


Part 1
 
Gejolak yang terjadi di Suriah sejak 2011 hingga kini belum terselesaikan. Suriah merupakan sebuah fenomena yang langkah sejak terjadinya Arab Spring yang melanda negara-negara Arab, mengapa demikian? Karena negara-negara Arab seperti Tunisia, Mesir, Libya yang mengalami Arab Spring dapat menumbangkan rezim yang berkuasa dengan rentan waktu yang sangat cepat. Berbeda dengan ketiga negara tersebut, Suriah hingga kini masih bisa mempertahankan Bashar al-Assad sebagai presiden Suriah. konflik Suriah yang terjadi tidak lepas dari pengaruh Arab Spring yang dimulai dari Tunisia. Melihat keberhasilan negara-negara Arab yang mampu menggantikan pemerintahan yang dikatator memberikan inspirasi dan semangat bagi para aktivis Suriah untuk melakukan aksi yang sama degan harapan Bashar al-Assad yang telah menjadi presiden lebih dari 10 tahun serta kekuasaan  Partai Ba’ath yang lebih dari 30 tahun agar dapat digantikan. Keinginan untuk menggantikan posisi Bashar telah memunculkan berbagai kelompok yang kebanyakan berasal dari kaum Sunni karena Bashar adalah seorang Syiah. Konflik yang awalnya bersifat politis berubah menjadi kofnlik sektarian. Kelompok-kelompok tersebut melakukan berbagai aksi yang dimulai dengan aksi protes namun berkembang menjadi aksi-aksi yang anrkis seperti membunuh.
Konflik internal yang terjadi di Suriah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap regionalisme di Timur Tengah. Peta politik negara-negara Arab sangat terlihat dalam konflik Suriah dan merupakan permasalahan yang sangat kompleks. Suriah bagaikan sebuah permainan bagi negara-negara pemain utama yang saling berperang memperebutkan kekuasaan. Dalam konflik Suriah kita dapat menggambarkan posisi negara-negara di kawasan Timur Tengah diantaranya: Turki, meskipun masih belum jelas apakah Turki dimasukan kedalam kawasan Timur Tengah ataukah masuk kedalam Eropa karena posisinya yang berbatasan dengan kedua kawasan Eropa dan Timur Tengah, meskipun demikian konflik di Suriah juga berdampak pada Turki karena posisi kedua negara yang saling berbatasan. Dalam hal konflik Suriah, Turki memainkan perannya sebagai sebuah negara yang mengutuk tindakan Bashar yang merupakan seorang Syiah terhadap orang-orang Sunni. Turki juga dijadikan sebagai aliansi negara-negara barat seperti Amerika untuk menempatkan pasukan-pasukannya agar menyerang pemerintahan Bashar dan membasmi ISIS di Suriah. Selain itu Turki juga memberikan bantuan kepada para pengungsi asal Suriah akibat yang terjadi. Namun konflik Suriah juga memberikan dampak pada masalah dalam negeri Turki yakni konflik Kurdi.
Yordania,  sebuah negara yang juga berbatasan langsung dengan Suriah menanggapi pula konflik Suriah. Sikpa Yordania dalam mengatasi korban-korban konflik mirip degan sikap dari Turki yakni memberikan bantuan berupa fasilitas kepada para pengungsi. Sementara dalam kondisi internal, Yordania telah melakukan berbagai upaya sebagai bentuk pertahanan agar konflik yang terjadi di Suriah tidak mennyebar ke Wilayah Yordania dengan memperkuat militer serta memperketat keamanan perbatasan yordania. Sementara dalam politik Yordania menjadi menarik untuk dilihat karena untuk mengatasi permasalahan politik Suriah dan masalah teroris yakni ISIS yang menjadi ancaman kemanan dunia, Yordania berkoalisi dengan Amerika untuk mengatasi masalah teroris dan mencarikan solusi dalam konflik Suriah. Namun koalisi yang diberikan oleh Yordania kepada Amerika kemudian berubah haluan kepada Rusia. Koalisi Yordania dan Rusia dalam permasalahan Suriah disamapaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov (http://international.sindonews.com/, 2015). Raja Yordania, Abdullah II bin Al-Hussein menyebutkan bahawa Rusia adalah pemain kunci yang dapat menciptakan perdamaian dalam permasalahan politik di Suriah. dalam sebuah wawncara dengan Euronews, Raja Abdullah mengatakan bahwa:
”Saya selalu mengatakan, selama lima atau enam tahun terakhir, bahwa untuk solusi politik di Suriah, Moskow adalah kunci. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberikan jaminan untuk rezim, bahwa mereka memiliki peluang di masa depan,” (http://international.sindonews.com/, 2015)
Koalisi Yordania bersama Rusia memperlihatkan posisi Yordania dalam konflik Suriah saat ini. Perlu diketahui bahwa Rusia adalah pendukung besar Bashar al-Assad yang berasal dari luar wilayah Timur Tengah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Rusia untuk mempertahankan posisi Bashar al-Assad sebagai Presiden Suriah dan terus berupaya memeperkecil pengaruh Amerika di wilayah Timur Tengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar